Tutorial Blogger
Buat Lebih Banyak Halaman Blogger
Buat Blogrool Blog
Buat Template Blogger Gratis
Mengoptimalkan Blog Untuk Pemula
Website Seharga 17 Miliar
Cara Pasang Iklan Blogger
Pasang Adsence di atas Posting
Pasang teks link dan Mini Banner
Cara Pasang Google PageRank
Buat blog Step by Step
Buat Blogroll Berjalan
Pasang Musik di Blog
10 juta dari Telkomsel
Tukaran Link Banner
5 Tanda Blog Sakit
Cara Menyehatkan Blog
Menghilangkan Heck Blogger
Resiko Menjadi blog nomer 1
Hujan asam dan pengasaman ekosistem air
Oksigen terlarut dan kejenuhan oksigen
sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah penyerapan oksigen dari udara melalui kontak antara permukaan air dengan udara dan dari proses fotosintesis. Selanjutnya air kehilangan oksigen melalui pelepasan dari permukaan ke atmosfer dan melalui kegiatan respirasi dari semua organisme air.
pengaruh oksigen terlarut terhadap fisiologis organisme air terutama adalah dalam proses respirasi. Berbeda dengan faktor temperatur yang mempunyai pengaruh yang merata terhadap fisiologis semua organisme air, konsentrasi oksigen terlarut dalam air hanya berpengaruh secara nyata terhadap organisme air yang memang mutlak membutuhkan oksigen terlarut untuk respirasinya.
ada berbagai jenis organisme air yang tidak tergantung kepada kelarutan oksigen dalam air seperti pupa dan larva yang akan bergerak ke permukaan air untuk mendapatkan oksigen dari atmosfer. Spesis ini mempunyai sistem trakhea terbuka seperti umumnya terdapat pada insekta terestrial, selanjutnya oksigen dari atmosfer akan diserap melalui stigma yang terbuka.
fitoplankton
Kemampuan mereka untuk mensintesis sendiri bahan organiknya menjadikan mereka sebagai dasar dari sebagian besar rantai makanan di ekosistem lautan dan di ekosistem air tawar.
Disamping cahaya, fitoplankton juga sangat tergantung dengan ketersediaan nutrisiuntuk pertumbuhannya. Nutrisi-nutrisi ini terutama makronutrisi seperti nitrat, fosfatatau asam silikat, yang ketersediaannya diatur oleh kesetimbangan antara mekanisme yang disebut pompa biologis dan upwelling pada air bernutrisi tinggi dan dalam. Akan tetapi, pada beberapa tempat di Samudra Dunia seperti di Samudra bagian Selatan, fitoplankton juga dipengaruhi oleh ketersediaan mironutrisi besi. Hal ini menyebabkan beberapa ilmuan menyarankan penggunaanpupuk besi untuk membantu mengatasi karbondioksida akibat aktivitas manusia di atmosfer.[2].
Walaupun hampir semua fitoplankton adalah fotoautotrof obligat, ada beberapa fitoplankton yang miksotrofik dan ada juga spesies tak berpigmen yang merupakan heterotrof (yang ini dinamakan sebagai zooplankton). Jenis-jenis ini, yang paling dikenal adalah dinoflagellata seperti genus Noctiluca dan Dinophysis, memperoleh karbon organiknya dengan memakan organisme atau materialdetritus lainnya
euglena
Euglena dapat hidup secara autotrop maupun secara heterotrop. Pada saat sinar matahari mencukupi, Euglena melakukan fotosintesis. Tetapi bila tidak terdapat sinar matahari, Euglena mengambil zat organik yang terlarut di sekitarnya. Pengambilan zat organik dilakukan dengan cara absorbsi melalui membran sel. Selanjutnya, zat makanan itu dicernakan secara enzimatis di dalam sitoplasma.
[sunting] Perkembangbiakan Euglena
Euglena berkembangbiak secara vegetatif, yaitu dengan pembelahan biner secara membujur. Pembelahan ini dimulai dengan membelahnya nukleus menjadi dua. Selanjutnya flagel dan sitoplasma serta selaput sel juga terbagi menjadi dua. Akhirnya terbentuklah dua sel euglena baru.
Ada pertanyaan, euglena termasuk hewan atau tumbuhan sih? Ya tumbuhan dong, kan punya klorofil dan bisa berfotosintesis. Eit, tapi kan euglena tidak berdinding sel dan bisa bergerak aktif ! berarti kan hewan ?! terserah Anda menganggapnya apa, berikut sedikit ulasan tentang euglena. Bentuk tubuh euglena bervariasi, antara lain: lonjong (Eutreptia viridis), membulat (Trachelomonas volvocina), tidak beraturan (Euglenamorpha hegneri) dan sebagian besar berbentuk oval memanjang (Euglena intermedia).
Ciri-ciri lain Euglenophyta adalah sebagai berikut:
• Organisme bersel tunggal dengan susunan sel eukariota
• Sel tidak dibungkus oleh dinding selulosa, melainkan oleh perikel berprotein, yang berada didalam plasmalema. Pada kebanyakan Euglenoid, perikel itu bersifat lentur sehingga memungkinkan perubahan bentuk sel, tetapi pada beberapa jenis, perikel ini kaku sehingga sel memiliki bentuk tetap.
• Ujung depan sel euglenoid melekuk kedalam membentuk saluran yang ujung dalamnya meluas menjadi rongga membulat membentuk reservoar. Saluran dan reservoar itu walaupun dianggap sebagai terusan tempat partikel makanan padat masuk kedalam sel.
• Beberapa euglenoid berfotosintesis dan yang lain tidak. Anggota-anggota yang berpigmen memiliki kloroplas yang berisi klorofil a dan b. Hasil fotosintesis disimpan sebagai paramilon, sebuah polimer glukosa yang berbentuk butiran dalam sitoplasma.
• Pada dasarnya euglenoid memiliki dua buah flagel tipe cambuk berjumbai, dengan tonjolan lateral yang berupa bulu yang terletak pada satu barisan sepanjang flagel.
• Perkembangbiakan seksualnya mungkin tidak terjadi atau jika ada jarag sekali terjadi.
Habitatnya…….
Sesuai dengan alat geraknya (flagel) sebagian besar Euglenophyta hidup diperairan mulai dari air tawar, air laut dan lumpur. Bahkan ekstrimnya, Euglena dapat hidup dalam perut berudu Rana sp
Habitat Contoh Organisme
1. Air tawar
2. Air laut
3. Lumpur E. intermedia
Euptyeria viridis
Euglena sp
Kalau nutrisinya……
Secara umum Euglenophyta mempunyai cara hidup yang lengkap yaitu dapat bersifat saprofit (heterotrof pada hewan yang sudah mati yang mengandung bahan organik), holozoik (menyerap bahan makanan) dan fototrofik sehingga dapat hidup secara heterotrof dan autotrof. Cara yang lebih sering dilakukan adalah secara heterotrof, sedangkan autotrof dilakukan apabila lingkungan kurang terdapat bahan organik. Oleh karena Euglenophyceae dapat bersifat heterotrof maupun autotrof maka Euglenophyceae disebut bersifat miksotrof.
Bagaimana euglena bereproduksi ?
Pada ganggang bersel tunggal seperti euglena, hal ini terjadi secara pembelahan biner, yaitu suatu pembelahan sederhana sebuah organisme utuh menjadi dua bagian yang sama yang kemudian tumbuh dan membentuk individu baru. Pembelahan sel dapat terjadi juga ketika sel bergerak, yang merupakan pembelahan longitudinal dan dimulai pada ujung anterior. Pembelahan pada saat sel tidak bergerak, sel dikelilingi selubung yang gelatinous. Seringkali sel anak membelah lagi untuk membentuk koloni palmela (bila sang anak gagal keluar dari sel induk, sel-sel anak akan terus membelah sampai mencapai ratusan sel anak dan diselubungi matriks yang gelatinous) yang temporal selama mitosis.
Pada spesies yang memiliki satu flagellum, blepharoplas (granula pada pangkal tiap-tiap flagella) membelah menjadi dua. Flagellum lama tetap menempel pada salah satu blepharoplas dan dari blepharoplas yang satunya tumbuh flagellum baru. Proses pembelahan selanjutnya seperti mitosis pada umumnya.
Euglena juga sering kali membentuk kista (sel vegetatif membulat dan berdinding tebal) yang cukup tahan terhadap kondisi buruk sampai beberapa waktu lamanya. Selain itu juga bereproduksi secara autogami (fusi antara nukleus sel-sel anak). Inti hasil fusi kemudian membelah meiosis membentuk empat nukleus yang masing-masing berkembang menjadi sel vegetatif.
Ini dia struktur tubuh euglena….
Secara umum susunan tubuh Euglenophyta adalah uniseluler atau bersel satu, kecuali pada beberapa jenis saja yang berbentuk koloni, contohnya Colacium. Berikut gambar susunan tubuh Euglena:
Secara garis besar susunan pada euglenophyta yang lain serupa dengan gambar tersebut
perairan
Air di laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni. Laut, menurut sejarahnya, terbentuk 4,4 milyar tahun yang lalu, dimana awalnya bersifat sangat asam dengan air yang mendidih (dengan suhu sekitar 100 °C) karena panasnya Bumi pada saat itu. Asamnya air laut terjadi karena saat itu atmosfer Bumi dipenuhi oleh karbon dioksida. Keasaman air inilah yang menyebabkan tingginya pelapukan yang terjadi yang menghasilkan garam-garaman yang menyebabkan air laut menjadi asin seperti sekarang ini. Pada saat itu, gelombang tsunami sering terjadi karena seringnya asteroid menghantam Bumi. Pasang surut laut yang terjadi pada saat itu juga bertipe mamut atau tinggi/besar sekali tingginya karena jarak Bulan yang begitu dekat dengan Bumi. Menurut para ahli, awal mula laut terdiri dari berbagai versi; salah satu versi yang cukup terkenal adalah bahwa pada saat itu Bumi mulai mendingin akibat mulai berkurangnya aktivitas vulkanik, disamping itu atmosfer bumi pada saat itu tertutup oleh debu-debu vulkanik yang mengakibatkan terhalangnya sinar Matahari untuk masuk ke Bumi. Akibatnya, uap air di atmosfer mulai terkondensasi dan terbentuklah hujan. Hujan inilah (yang mungkin berupa hujan tipe mamut juga) yang mengisi cekungan-cekungan di Bumi hingga terbentuklah lautan.Secara perlahan-lahan, jumlah karbon dioksida yang ada diatmosfer mulai berkurang akibat terlarut dalam air laut dan bereaksi dengan ion karbonat membentuk kalsium karbonat. Akibatnya, langit mulai menjadi cerah sehingga sinar Matahari dapat kembali masuk menyinari Bumi dan mengakibatkan terjadinya proses penguapan sehingga volume air laut di Bumi juga mengalami pengurangan dan bagian-bagian di Bumi yang awalnya terendam air mulai kering. Proses pelapukan batuan terus berlanjut akibat hujan yang terjadi dan terbawa ke lautan, menyebabkan air laut semakin asin.Pada 3,8 milyar tahun yang lalu, planet Bumi mulai terlihat biru karena laut yang sudah terbentuk tersebut.(http://wikipedia.org.id,2010)
Sungai adalah air tawar yasng mengalir dari sumbernya di daratan menuju dan bermuara di alut, danau atau sungai yang lebih besar, aliran sunagi merupakan aliran yang bersumber dari limpasan yaitu: limpasan yang berasal dari hujan, gletser, limpasan dari anak-anak sungai dan dari limpasan dari air tanah
Manfaat sungai bagi manusia adalah sebagai berikut
a. air bagi pengairan wilayah pertanian atau irigasi dan usaha perikanan darat
b. sumber tenaga listrik untuk pembangkit listrik tenaga air(PLTA)
c. tempat untuk mengembakkbiakkan dan menangkap ikan guna untuk memenuhi kebutuhan manusia akan protein hewani
d. tempat rekreasi
e. tempat berolahraga seperti berperahu pada arus deras dan lomba dayung
Danau adalah sebuah cekungan di muka bumi dimana jumlah air yang masuk lebih besar dari air yang keluar. Danau mendapatkan air dari curahan hujan, sungai, dan air tanah, ketiga sumber tersebut bersama-sama dapat mengisi dan memberikan suplai air pada danau. Adapun manfaat danau adalah untuk Irigasi, Perikanan, PLTA, Rekreasi, Olahraga, Pelayaran, dan penampungan air untuk mencegah banjir.
Rawa adalah daerah di sekitar sungai atau muara sungai yang cukup besar yang merupakan tanah berlumpur dengan kadar air relatif tinggi. Rawa juga dikatakan sebagai genangan air di daratan pada cekungan yang relatif dangkal. Genangan rawa bisa juga terjadi karena terjebak pada suatu daerah cekungan dan lapisan batuan di bawah rawa merupakan batuan yang impermiable.
Manfaat rawa diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Rawa yang terdapat pergantian air tawar dapat untuk areal sawah
2. Rawa yang airnya tidak terlalu asam dapat untuk daerah perikanan
3. Sebagai sumber pembangkit listrik
4. Sebagai objek pariwisata.
Air tanah adalah air yang terdapat dalam pori-pori tanah atau pada celah-celah batuan. Air tanah terbentuk dari air hujan. Pada saat turun hujan, sebagian titik-titik air meresap ke dalam tanah (infiltrasi). Air hujan yang masuk itu yang menjadi adangan air tanah. Volume air yang meresap ke dalam tanah tergantung pada jenis lapisan batuannya. Berdasarkan kenyataan tersebut terdapat pula dua jenis batuan utama, yaitu lapisan kedap (impermiable) dan lapisan tanah tidak kedap air (permeable)
Kadar pori lapisan kedap atau tak tembus air sangat kecil, sehingga kemampuan untuk meneruskan air juga kecil. Contoh lapisan kedap, yaitu geluh, napal, dan lempung. Sedangkan kadar pori lapisan tak kedap air atau tembus air cukup besar. Oleh karena itu, kemampuan untuk meneruskan air juga besar. Contoh lapisan tembus air, yaitu pasir, padas, krikil dan kapur. Kita akan lihat bersama gambar lapisan kedap dan lapisan tak kedap pada air tanah di halaman berikutnya.(http://www.e-edukasi.com,2010)
pembahasan plankton
plankton juga dibagi menjadi fitoplankton, yaitu organisme plankton yang bersifat tumbuhan dan zooplankton, yaitu plankton yang bersifat hewan. Selain itu berdasarkan siklus hidupnya dikenal holoplankton, yaitu plankton yang seluruh siklus hidupnya bersifat planktonuik dan meroplankton, yaitu plankton yang hanya sebagia dari siklus hidupnya yang bersifat planktonik. Sebenarnya plankton juga mempunyai alat gerak ( misalnya flagelata dan ciliate ) sehingga secara terbataas plankton akan melakukan gerakan-gerakan, tetapi gerakan tersebut tidak cukup untuk mengimbangi gerakan air di sekelilingnya, sehingga dikatakan bahwa gerakan plankton sangat dienaruhi oleh gerakan air. Berdasarkan habitat hidupnya dibedakan antara haliplankton yaitu plankton yang hidup d habitat air laut dan limnoplankton yaitu plankton yang hidup di habitat air tawar
(barus,2004,hlm:25)
Klasifikasi ini membagi plankton menjadi produsen yang luas, konsumen dan kelompok pendaur ulang. Pada kenyataannya, tingkat trofik plankton beberapa tidak langsung. Sebagai contoh, meskipun sebagian besar dinoflagellates fotosintesis baik produsen atau konsumen heterotrofik, beberapa spesies dapat melakukan keduanya, tergantung pada keadaan. Dalam plankton, holoplankton adalah mereka yang menghabiskan seluruh siklus hidup mereka dalam plankton, sementara meroplankton adalah mereka yang hanya organisme planktonik untuk bagian dari kehidupan mereka (biasanya tahap larva), dan
kemudian pindah ke nekton atau habitat bentik. Contoh meroplankton termasuk larva bulu babi, bintang laut, kerang, krustasea, cacing dan ikan kebanyakan. Plankton juga dapat dikategorikan dengan berbagai ukuran (misalnya, macroplankton, microplankton, Nannoplankton,danpicoplankton). Beberapa zooplankton bisa berenang hingga beberapa ratus meter vertikal dalam satu hari (disebut migrasi vertikal pola makan), tapi posisi horisontal mereka terutama ditentukan oleh arus di dalam air. Plankton tidak dapat berenang melawan arus laut, sementara nekton lebih besar seperti ikan dan cumi-cumi bisa berenang melawan arus air. migrasi vertikal dengan pola makan zooplankton terdiri dari bergerak di air pada malam hari dan turun pada siang hari. Berada di air yang lebih dalam selama siang hari memberikan perlindungan dari predator yang menggunakan visi untuk menangkap mangsa. Perilaku ini terlihat pada hewan dari semua filum yang berbeda yang dalam plankton, sehingga harus memiliki nilai hidup yang sangat besar.
(Sverdrup,2008,hlm:390)
kelimpahan plankton dan distribusi sangat tergantung pada faktor-faktor seperti konsentrasi hara, keadaan air, dan kelimpahan plankton lain. kelimpahan mereka bervariasi secara horizontal, vertikal dan musiman. Sumber utama dari variabilitas ini adalah ketersediaan cahaya dan nutrisi. Di daerah beriklim sedang, musim semi membawa cahaya meningkat dan suhu yang lebih tinggi, menghasilkan mekar musim semi fitoplankton, diikuti oleh zooplankton. Selama musim panas, organisme mati tenggelam ke dasar dimana bakteri dan jamur menghancurkan jaringan dalam proses pembusukan. Pemilahan ini mengembalikan nutrisi, yang berkonsentrasi pada bagian bawah, meskipun fitoplankton yang perlu mereka berada di atas kolom air. Akibatnya laju fotosintesis menurun. Selama musim panas, kolom air dengan air hangat berlapis tetap berada di atas dan air dingin tinggal di bagian bawah. Hanya ketika gerakan air dapat membawa nutrisi ulang sampai lebih dekat ke permukaan dapat fitoplankton yang mekar lagi. Hal ini terjadi pada musim gugur, saat suhu jatuh dan sekarang air dingin tenggelam ke bawah permukaan dan air bawah muncul (upwelling) menyebabkan stratifikasi untuk merobohkan dan lain mekar kecil untuk terjadi. Walaupun lautan tropis memiliki cahaya berlimpah, mereka memiliki produksi primer relatif rendah karena rendahnya tingkat zat gizi seperti nitrat dan fosfat, karena terus-menerus stratifikasi kolom air. Sedangkan plankton yang ditemukan dalam kelimpahan terbesar di permukaan air, di daerah yang terlalu dalam untuk produksi primer terjadi, zooplankton dan bacterioplankton dapat menggunakan bahan organik yang tenggelam turun dari air permukaan di atas.( Suin,2002)
Secara umum, plankton adalah organisme kecil, umumnya kurang dari beberapa millimeter dalam ukuran. Ukuran kecil mereka berarti mereka cenderung dipindahkan oleh arus-arus dari tempat ketempat sementara tersuspensi dalam air laut. Fitopalnkton menggunakan energi solar untuk menghasilkan oksigen dan makanan oganik yang sebgaian besar bahan baker sisa hidup di laut. Fitoplankton dari dasar jarring makanan paling. Cyanobacteria adalah satu-satunya anggota dari fito[lankton bakteri tersebut. Zooplankton terdiri dari uniseluler serta organisme multiseluler. Secara umum, zooplankton mengkonsumsi organisme lain. Banyak remaja tahap dewasa non plankton
Juga anggota zooplankton. Bakteri bukan anggota zooplankton. Zooplankton berisi anggota sebesar plankton. Misalnya, ubur-ubur ada yang besar trailing 15 tentakel. Bakterioplankton ini terdiri dari anggota domain bakteri dan archaea. Bakterioplankton biasanya mangandalkansenyawa organic dan nonorganik yang terlarut dalam air laut. Bakterioplankton memainkan peran yang sangat beragam dalam ekosistem laut
( Sverdrup,2008,hlm:390 ).
Plankton hidup di lapisan atas, tapi nutrisi yang diperlukan oleh plankton terdapat lebih banyak di lapisan bawah laut. Karenanya, plankton mengalami malnutrisi.Akibat kondisi malnutrisi ditambah dengan suhu air yang panas, plankton mengalami stress sehingga lebih rentan terhadap sinar ultraviolet yang dapat merusaknya.Karena rentan terhadap sinar ultraviolet, plankton mencoba melindungi diri dengan menghasilkan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka.Zat ini jika terurai ke air akan menjadi zat dimethylsulfide (DMS). DMS kemudian terlepas dengan sendirinya dari permukaan laut ke udara.Di atmosfer, DMS bereaksi dengan oksigen sehingga membentuk sejenis komponen sulfur. Komponen sulfur DMS itu kemudian saling melekat dan membentuk partikel kecil seperti debu. Partikel-partikel kecil tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut untuk berkondensasi dan membentuk awan.Jadi, secara tidak langsung, plankton membantu menciptakan awan. Awan yang terbentuk menyebabkan semakin sedikit sinar ultraviolet yang mencapai permukaan laut, sehingga plankton pun terbebas dari gangguan sinar ultraviolet.Proses ini sebenarnya telah beberapa tahun dipelajari di laboratorium oleh para ilmuwan, namun proses alamiahnya baru kali ini dapat dipelajari.Awan yang disebabkan oleh plankton ini, dipercaya dapat memperlambat proses pemanasan bumi, serta memiliki efek besar tehadap iklim bumi. Namun, untuk membuktikan hal tersebut, masih harus dilakukan penelitian lanjutan yang seksama.Penelitian yang dilakukan di Laut Sargasso, lepas pantai Bermuda ini juga menemukan secara mengejutkan bahwa partikel DMS ini dapat terurai dengan sendirinya di udara setelah tiga sampai lima hari saja. Padahal, karbondioksida di udara, dapat bertahan hingga berpuluh-puluh tahun.Karena penguraian alamiah DMS sangat cepat, DMS tidak akan menimbulkan efek rumah kaca, tidak seperti karbondioksida.(Suin,2002)
.
Penyebaran plankton di dalam air tidak sama pada kedalaman yang berbeda. Tidak samanya dengan penyebaran plankton dalam badan air disebabkan adanya perbedaan suhu, kadar oksigen, intensitas cahaya, dan fator-faktor abiotik lannya. Sehubungan dengan itu maka pengambilan contoh dan pengukuran kepadatan populasi plankton di suatu badan air dilakukan pada beberapa kadalaman. Untuk fiytoplanlton, pengmbilan contoh dan pengukuran kepadatan populasi dilakukan sampai kedalamn dimana cahaya sampai di lapisan tersebut (Ross,1982)
pengertian laut
Laut adalah kumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan samudra.
Air di laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni.
[sunting] Sejarah
Laut, menurut sejarahnya, terbentuk 4,4 milyar tahun yang lalu, dimana awalnya bersifat sangat asam dengan air yang mendidih (dengan suhu sekitar 100°C) karena panasnya Bumi pada saat itu. Asamnya air laut terjadi karena saat itu atmosfer Bumi dipenuhi oleh karbon dioksida. Keasaman air inilah yang menyebabkan tingginya pelapukan yang terjadi yang menghasilkan garam-garaman yang menyebabkan air laut menjadi asin seperti sekarang ini. Pada saat itu, gelombang tsunami sering terjadi karena seringnya asteroid menghantam Bumi. Pasang surut laut yang terjadi pada saat itu juga bertipe mamut atau tinggi/besar sekali tingginya karena jarak Bulan yang begitu dekat dengan Bumi.
[sunting] Awal mula
Menurut para ahli, awal mula laut terdiri dari berbagai versi; salah satu versi yang cukup terkenal adalah bahwa pada saat itu Bumi mulai mendingin akibat mulai berkurangnya aktivitas vulkanik, disamping itu atmosfer bumi pada saat itu tertutup oleh debu-debu vulkanik yang mengakibatkan terhalangnya sinar Matahari untuk masuk ke Bumi. Akibatnya, uap air di atmosfer mulai terkondensasi dan terbentuklah hujan. Hujan inilah (yang mungkin berupa hujan tipe mamut juga) yang mengisi cekungan-cekungan di Bumi hingga terbentuklah lautan.
Secara perlahan-lahan, jumlah karbon dioksida yang ada diatmosfer mulai berkurang akibat terlarut dalam air laut dan bereaksi dengan ion karbonat membentuk kalsium karbonat. Akibatnya, langit mulai menjadi cerah sehingga sinar Matahari dapat kembali masuk menyinari Bumi dan mengakibatkan terjadinya proses penguapan sehingga volume air laut di Bumi juga mengalami pengurangan dan bagian-bagian di Bumi yang awalnya terendam air mulai kering. Proses pelapukan batuan terus berlanjut akibat hujan yang terjadi dan terbawa ke lautan, menyebabkan air laut semakin asin.
Pada 3,8 milyar tahun yang lalu, planet Bumi mulai terlihat biru karena laut yang sudah terbentuk tersebut. Suhu bumi semakin dingin karena air di laut berperan dalam menyerap energi panas yang ada, namun pada saat itu diperkirakan belum ada bentuk kehidupan di bumi.
Kehidupan di Bumi, menurut para ahli, berawal dari lautan (life begin in the ocean). Namun demikian teori ini masih merupakan perdebatan hingga saat ini.
Pada hasil penemuan geologis di tahun 1971 pada bebatuan di Afrika Selatan (yang diperkirakan berusia 3,2 s.d. 4 milyar tahun) menunjukkan adanya fosil seukuran beras dari bakteri primitif yang diperkirakan hidup di dalam lumpur mendidih di dasar laut. Hal ini mungkin menjawab pertanyaan tentang saat-saat awal kehidupan dan di bagian lautan yang mana terjadi awal kehidupan tersebut. Sedangkan kelautan itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari berbagai biota atau makhluk hidup di laut yang perlu dimanfaatkan melalui usaha perikanan.
teknik budidaya rumput laut dengan metode tali panjang
Hasil proses ekstraksi rumput laut banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau sebagai bahan tambahan untuk industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, kertas, cat dan lain-lain. Selain itu digunakan pula sebagai pupuk hijau dan komponen pakan ternak maupun ikan.
Dengan semakin luasnya pemanfaatan hasil olahan rumput laut dalam berbagai industri, maka semakin meningkat pula kebutuhan akan rumput laut Eucheuma sp. sebagai bahan baku. Selain untuk kebutuhan ekspor, pangsa pasar dalam negeri cukup penting karena selama ini industri pengolahan rumput laut sering mengeluh kekurangan bahan baku. Melihat peluang tersebut, pengembangan komoditas rumput laut memiIiki prospek yang cerah karena memiIiki nilai ekonomis yang penting dalam menunjang pembangunan perikanan baik kaitannya dengan peningkatan ekspor non migas, penyediaan bahan baku industri dalam negeri, peningkatan konsumsi dalam negeri maupun meningkatkan pendapatan petani/nelayan serta memperluas lapangan kerja.
Budidaya rumput laut Eucheuma sp. yang sudah biasa dilakukan oleh petani/nelayan adalah dcngan menggunakan metode rakit apung (floating raft method dan metode lepas dasar (off bottom method), metode ini sangat tepat diterapkan pada areal peraitan antara interdal dan subtidal dimana pada saat ait surut terendah dasar peraltan masili terendam aIr serta lebih banyak memanfaatkan perairan yang relatif dangkal. Oleh karena itu untuk melakukan pengembangan budidaya rumput laut tersebut sangat terbatas apalagi beberapa lokasi perairan pantai di Indonesia pada waktu surut terendah dasar perairannya kering. Dengan demikian perlu adanya metode lain yang bisa memanfaatkan peraitan-perairan yang relatif dalam yang selama ini kurang dimanfaatkan walaupun sebenarnya mempunyai potensi lebih besar apabila dimanfaatkan secara optimal.
Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai teknik budidaya rumput laut Eucheuma sp. di perairan pantai dengan metode tali panjang (Iongline method) yang dapat diterapkan di perairan yang relatif dalam maupun perairan dangkal yang mempunyai keunggulan-keunggulan tertentu dibandingkan dengan metode lain. Metode ini sudah diterapkan dan dimasyarakatkan kepada petani/nelayan rumput laut di Propinsi Nusa Tenggara Barat dan memberikan hasil yang menggembirakan.
Persyaratan Lokasi Dan Lahan
Lahan budidaya Eucheuma sp. yang cocok terutama sangat ditentukan oleh kondisi ekologis yang meliputi kondisi lingkungan fisik, kimia dan biologi. Adapun persyaratan lahan budidaya Eucheuma sp. adalah:
- Lokasi budidaya harus terlindung dari hempasan langsung ombak yang kuat.
- Lokasi budidaya harus mempunyai gerakan air yang cukup. Kecepatan arus yang cukup untuk budidaya Eucheuma sp. 20 - 40 cm/detik.
- Dasar perairan budidaya Eucheuma sp. adalah dasar perairan karang berpasir.
- Pada surut terendah lahan budidaya masih terendam air minimal 30 cm.
- Kejernihan air tidak kurang dari 5 m dengan jarak pandang secara horisontal.
- Suhu air berkisar 27 -30°C dengan fluktuasi harian maksirnaI 4°C.
- Salinitas (kadar garam) perairan antara 30 -35 permil (optimum sekitar 33 permil).
- pH air antara 7 -9 dengan kisaran optimum 7,3 -8,2.
- Lokasi dan lahan sebaiknya jauh dari pengaruh sungai dan bebas dari pencemaran.
- Sebaiknya dipilih perairan yang seeara alami ditumbuhi berbagai jenis makro algae lain seperti Ulva, Cauletpa, Padina, Hypnea dan lain-lain sebagai sp. indikator.
Bibit
- Bibit harus dipilih dan thallus yang muda, segar, keras, tidak layu dan kenyal.
- Berat bibit pada awal penanaman + 100 gram per ikat.
- Bibit sebaiknya disirnpan di tempat yang teduh dan terlindung dari sinar matahari atau direndam di laut dengan menggunakan kantong jaring.
Metode Tali Panjang
Metode tali panjang (long line method) pada prinsipnya hampir sama dengan metode rakit tetapi tidak menggunakan bambu sebagai rakit, tetapi menggunakan tali piastik dan botol aqua bekas sebagai pelampungnya. Metode ini dimasyarakatkan karena selain lebih ekonomis juga bisa diterapkan di perairan yang agak dalam. Keuntungan metode ini antara lain:
- tanaman cukup menerima sinar rnatahari;
- tanaman lebih tahan terhadap perubahan kualitas air;
- terbebas dari hama yang biasanya menyerang dari dasar perairan;
- pertumbuhannya lebih cepat;
- cara kerjanya lebih mudah;
- biayanya lebih murah;
- kualitas rumput laut yang dihasilkan baik.
Saat ini para petani/nelayan di perairan NTB umumnya mengembangkan usaha budidaya rumput laut Eucheuma sp. dengan metode tali panjang, dan tentunya metode ini dapat diterapkan dan dikembangkan oleh petani/nelayan di wilayah lain di Indonesia. Persiapan pembuatan kontruksinya yang meliputi persiapan lahan dan peralatan sebagai berikut :
a. Material
- Tali plastik diameter 9 mm (sebagai tali utama dan tali jangkar).
- Tali plastik diameter 4 mm (sebagai tali ris tempat untuk mengikatkan bibit).
- Tali rafia (sebagai pengikat bibit).
- Bibit rumput laut jenis Eucheuma sp.
- Botol plastik bekas/gabus (sebagai pelampung).
- Patok bambu/kayu atau batu karang (sebagai jangkar).
- Pisau.
- Perahu.
b. Prosedur
- Ukuran unit yang dipakai biasanya 15 x 30 m2.
- Siapkan material budidaya seperti yang tersebut pada butir a.
- Potong tali ris sepanjang 30,5 m sebanyak 15 buah.
- Potong tali utama sepanjang 17 m sebanyak 2 buah.
- Potong tali jangkar yang panjangnya disesuaikan dengan kedalarnan perairan pada waktu pasang tertinggi sebanyak 4 buah.
- Rentangkan kedua tali utama pada lokasi perairan yang telah dipilih dengan posisi saling berhadapan dengan jarak 30 m dan ikatkan tali jangkar pada kedua ujungnya yang sebelumnya dibebani batu karang atau diikatkan pada patok bambu/kayu yang ditancapkan sebelumnya kemudian disudut-sudutnya dipasang pelampung.
- Ikat bibit yang telah diseleksi dengan tali rafia dengan berat masing-masing sekitar 100 gram/ikat kemudian bibit tersebut diikatkan pada tali ris.
- Jarak tiap ikat bibit yang diikatkan pada tali ris sekitar 25 cm kemudian setelah semua tali ris terisi oleh bibit maka segera diangkut menuju lokasi budidaya dengan perahu.
- Rentangkan tali ris kemudian ikatkan pada tali utama dikedua ujungnya dengan jarak masing-masing tali ris sekitar 1 m.
- Pengikatan tali ris pada tali utama disesuaikan sehingga jarak tanaman dari permukaan air sekitar 30 sampai 50 cm.
- Setelah tali ris diikat semua maka ikatkan pelampung botol plastik bekas pada tali ris, masing-masing tis sebanyak 10 buah dengan jarak sekitar 3 m.
Untuk lebih jelasnya mengenai budidaya Eucheuma sp. dengan metode tali panjang dapat dilihat pada gambar 1.
Perawatan Dan Panen
Dalam usaha budidaya rurnput laut, perawatan tanaman adalah sangat penting. Kegiatan perawatan meliputi hal-hal sebagai berikut:
- membersihkan tanaman dari kotoran yang melekat, endapan atau tumbuban lain yang menempel;
- mengganti tanaman yang rusak dengan tanaman yang baru atau tanaman yang pertumbuhannya baik;
- memperbaiki konsttuksi yang rusak seperti jangkar tercabut, atau tali-tali lepas atau putus.
Tanaman sudah dapat dipanen dengan cara panen total (full harvest) setelah berumur 45-60 hari sejak ditanam. Panen dilakukan dengan cara mengangkat seluruh tanaman,
sedangkan pelepasan tanaman dari tali ris dilakukan di darat. Penanaman kembali dilakukan dengan memilih bagian ujung tanaman yang masih muda dan bagian pangkal tanaman yang merupakan bagian yang tua dikeringkan karena memiliki kandungan karaginan yang tinggi.
Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara menggunakan alat pengering (oven) atau secara alami dengan mcnjemur dengan sinar matahari. Yang murah dan praktis adalah dengan cara dijemur dengan sinar matahari selama 2 -3 hari, tergantung kondisi panas matahari. Dalam penjemuran ini haruS menggunakan alas, seperti para-para, terpal plastik dan lain-lain untuk menghindari tercampurnya rumput laut hasil panen dengan kotoran seperti pasir atau kerikil dan lain-lain. Setelah kering dan bersih dari segala macam kotoran maka rurnput laut dimasukkan kedalam karung plastik untuk kemudian siap dijual atau disimpan di gudang. Pada waktu penyimpanan hindari kontaminasi dengan minyak atau air tawar. Proses penjemuran dan penyimpanan sangat perlu mendapat perhatian, karena meskipun hasil panennya baik akan tetapi bila penanganan pasca panennya kurang baik maka akan mengurangi kualitas rumput laut.
beberapa genus karang
1. Genus Acropora (Familia Acroporidae)
Genus Acropora memiliki jumlah jenis (spesies) terbanyak dibandingkan genus lainnya pada karang. Karang jenis ini biasanya tumbuh pada perairan jernih dan lokasi dimana terjadi pecahan ombak. Bentuk koloni umumnya bercabang dan tergolong jenis karang yang cepat tumbuh, namun sangat rentan terhadap sedimentasi dan aktivitas penangkapan ikan.
Karakteristik bentuk rangka kapur genus Acropora antara lain ialah:
• Koloni biasanya bercabang, jarang sekali menempel ataupun
submasif.
• Koralit dua tipe, axial dan radial.
• Septa umumnya mempunyai dua lingkaran.
• Columella tidak ada.
• Dinding koralit dan coenosteum rapuh.
• Tentakel umumnya keluar pada malam hari.
2. Genus Montipora (Familia Acroporidae)
Genus Montipora sering ditemukan mendominasi suatu daerah. Sangat tergantung pada kejernihan suatu perairan. Biasanya berada pada perairan dangkal berkaitan dengan intensitas cahaya yang diperolehnya dengan bentuk koloni berupa lembaran.
Karakteristik bentuk rangka kapur genus Montipora ini antara lain ialah:
• Bentuk koloni bervariasi, ada yang submasif, laminar, menempel ataupun bercabang.
• Ukuran koralit umumnya kecil.
• Septa umumnya memiliki dua lingkaran dengan bagian ujung (gigi) muncul keluar. Apabila disentuh maka akan terasa tajam.
5
• Tidak memiliki columella.
• Dinding koralit dan coenosteum keropos. Coenosteum memiliki beberapa tipe: Papillae bila coenosteum lebih kecil dibandingkan dengan ukuran koralit, dan tuberculae jika sebaliknya. Apabila berkelompok mengelilingi koralit disebut thecal papillae dan juga ada thecal tuberculae.
• Tentakel umumnya keluar pada malam hari.
o Karang yang struktur rangka kapurnya mirip dengan genus Montipora adalah genus Porites, dan kadangkala sulit untuk membedakannya. Namun pada pengamatan bawah air, struktur internal pada koralit karang genus Porites lebih jelas terlihat dibandingkan dengan karang genus Montipora, dan sebagian besar Montipora memiliki coenosteum yang lebar, sementara Porites tidak memiliki coenosteum.
3. Genus Pocillopora (Familia Pocilloporidae)
Karakteristik bentuk rangka kapur genus Pocillopora antara lain ialah:
• Koloni umumnya berbentuk submasif, bercabang, ataupun bercabang dengan bentuk pipih.
• Koloni ditutupi oleh verrucae.
• Koralit cekung ke dalam pada verrucae.
• Koralit mungkin tidak memiliki struktur dalam atau memiliki columella yang kurang berkembang.
• Memiliki dua lingkaran septa yang tidak sama.
• Coenosteum biasanya ditutupi oleh granules (butiran).
• Tentakel umumnya keluar hanya pada malam hari
• Genus Pocillopora merupakan satu-satunya genus pada karang yang memiliki verrucae. Hal tersebut menjadi ciri khas yang membedakannya dengan genus-genus karang yang lain.
4. Genus Seriatopora (Familia Pocilloporidae)
Karakteristik genus Seriatopora antara lain ialah:
☺ Ciri khas koloninya berbentuk compact bushes dengan cabang yang halus.
☺ Koralit tersusun rapi (neat rows) sepanjang cabang.
6
☺ Koralit sebagian besar tenggelam (immerse) dan struktur internal tidak
begitu berkembang kecuali columella.
☺ Septa umumnya berjumlah satu, namun kadangkala terdiri atas dua
lingkaran, dan telah berkembang dan menyatu hingga ke columella.
☺ Coenosteum ditutupi oleh spinules (duri-duri) yang halus.
☺ Struktur rangka kapur genus Seriatopora hampir mirip dengan genus Stylophora, tetapi dapat dibedakan, dimana percabangan genus Seriatopora lebih halus (kecil) dibandingkan dengan genus Stylophora.
5. Genus Favia (Familia Faviidae)
Karakteristik bentuk rangka kapur genus Favia antara lain ialah:
☺ Bentuk koloni umumnya masif, flat atau dome-shaped.
☺ Koralit sebagian besar monocentric (satu columella dalam satu corallite)
dan plocoid.
☺ Memperbanyak koralit melalui pembelahan intratentacular.
☺ Tentakel umumnya keluar hanya pada malam hari.
☺ Struktur rangka kapur genus Favia mirip dengan genus Favites tapi dapat
dibedakan dengan perbedaan tipe koralit karang. Tipe koralit Favites tergolong ceroid, sedangkan tipe koralit Favia tergolong plocoid.
6. Genus Favites (Familia Faviidae)
Beberapa karakteristik bentuk rangka kapur dari genus Favites :
�� Bentuk koloni umumnya masif, flat atau dome-shaped.
�� Koralit berbentuk monocentric dan ceroid, beberapa berbentuk subplocoid.
�� Pada koloni karang ini, antar dua koralit dibatasi oleh satu dinding koralit.
7. Genus Porites (Familia Poritidae)
Beberapa karakteristik bentuk rangka kapur dari genus Porites :
�� Bentuk koloni ada yang flat (foliaceous atau encrusting), masif atau
bercabang.
7
8
�� Koloni yang masif berbentuk bulat ataupun setengah bulat. Koloni masif
yang kecil akan terlihat berbentuk seperti helm atau dome-shaped, dengan
diameter dapat mencapai lebih dari 5 m.
�� Koralit berukuran kecil, cekung ke dalam (terbenam) pada badan koloni dengan
lebar Calice kurang dari 2 mm.
�� Tentakel umumnya keluar pada malam hari.
Genus Porites ini mirip dengan genus Montipora dan Stylaraea, namun memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan antara Porites dengan Montipora ialah bahwa Porites memiliki bentuk pertumbuhan yang lebih beragam, koralit pada Porites lebih besar, kokoh dan tidak ada elaborate thecal (perpanjangan dinding koralit). Genus Montipora mempunyai dua tipe coenosteum, yaitu reticulum papillae dan tuberculae. Selain itu, Porites memiliki koralit yang umumnya selalu terlihat septanya, sementara Montipora hanya memiliki perpanjangan gigi septa yang menonjol keluar sehingga terasa runcing dan kasar bila tersentuh.
8. Genus Goniopora (Familia Poritidae)
�� Bentuk koloni columnar , masif dan encrusting.
�� Koralit tebal tapi berdinding keropos dan calice memiliki septa yang kokoh dan
memiliki columella.
�� Polip genus Goniopora berukuran panjang dan keluar baik pada malam maupun siang
hari.
�� Polip genus Goniopora memiliki 24 tentakel.


